Harga Segelas Air


Suatu ketika, Khalifah Harun Al-Rayid duduk gelisah. Untuk meringankan beban pikirannya, beliau mengundang ulama terkemuka pada masanya, Abu as-Sammak. “Nasihatilah aku,” pinta Khalifah.
Pada saat yang sama pelayan membawa segelas air untuk Khalifah. Sebelum minum, Abu as-Sammak berkata, “Tunggu sebentar seandainya dalam keadaan sangat haus, sedangkan segelas air ini tidak kauperoleh, berapakah harga yang kau siap bayar? Jawablah dengan jujur.” “Setengah dari kekayaanku,” jawab Khalifah.

Religiousitas Sains: Why not!!


Saya merasakan betul, bahwa di zaman modern ini, banyak kalangan terutama ilmuwan telah mendepak pemikiran keagamaan dalam karya ilmiah mereka. Sehingga hasill pemikiran mereka dalam ilmu-ilmu sosial terkesan sangat dangkal dan kering dari nilai-nilai pemikiran sosial keagamaan. Keadaan semacam ini, cepat atau lambat akan menjadi racun yang teramat berbahaya yang menimbulkan destruktif kemanusiaan. Para ilmuwan mungkin sengaja atau keliru mengatakan ilmu itu bebas nilai, tergantung pemakainya (user). Boleh jadi ilmu pengetahuan dapat berfungsi ganda, yaitu untuk kebaikan sekaligus juga kerusakan/kejahatan. Padaha pemikiran ilmu bebas nilai itu merupakan penyimpangan (anomali) yang paling serius terhadap filsafat sebagai ibu kandungnya (mother of sciences).

Pendapat Cendekiawan dan Filosof Terhadap Islam


Berikut ini adalah kumpulan pendapat atau komentar orang-orang barat terhadap Agama Islam. Mereka memberikan komentar tentang Islam secara obyektif dan berdasarkan dengan pengalaman dan apa yang mereka pelajari terhadap Islam selama ini.

George Sarton (dosen Universitas Harvard) :
“Sesungguhnya Islam merupakan tatanan agama yang paling tepat sekaligus paling indah dibanding agama-agama lain. Namun kaum muslimin sendiri yang menjauhkan dari hakekat yang dibawa Islam” Lanjutnya lagi : “ Kalau kita melihat Islam dari perbuatan kaum muslimin, sudah tentu kita tidak akan melihat bahwa agama islam itu utuh”.

Politik dalam Pandangan Islam


"Kebangkitan suatu bangsa di dunia selalu bermula dari kelemahan. Sesuatu yang sering membuat orang percaya bahwa kemajuan yang mereka capai kemudian adalah sebentuk kemustahilan. Tapi, di balik anggapan kemustahilan itu, sejarah sesungguhnya telah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran, keteguhan, kearifan, dan ketenangan dalam melangkah telah mengantarkan bangsa-bangsa lemah itu merangkak dari ketidakberdayaan menuju kejayaan." (Hasan Al-Banna; Risalah Ila Ayyu Syain Nad u An-Naas.)

Video Of Day